Pengalaman Si Sulung Masuk SD di Jepang!

Halo Ayah Bunda,

Kali ini teman Gakken Jakarta, Ibu Hayu Sayektiningati akan berbagi pengalaman ketika dia membawa suami dan anak-anaknya saat mendapatkan beasiswa di Jepang. Bagaimana tantangan yang dia hadapi saat anak sulungnya, Maliq, bersekolah di Jepang? Yuk kita simak ceritanya!

Minasan, Konnichiwa! (Halo Semua!) Perkenalkan nama saya Hayu Sayektiningati. Saya ibu berusia 36 tahun yang memiliki 2 anak laki-laki, Maliq dan Mikail. Saat ini saya tinggal di Bekasi. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya ketika mendapat kesempatan beasiswa ke Jepang.

Jadi, di tahun 2016 saya mendapatkan beasiswa Research Student yang diberikan oleh Pemerintah Jepang atau lebih dikenal dengan Beasiswa Monbusho. Saya tidak berangkat sendirian, semua keluarga, suami dan kedua anak saya, saya boyong untuk pindah ke Jepang. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas untuk anak-anak saya agar merasakan sekolah di Jepang.

Anak pertama saya, Maliq, saat itu berusia 9 tahun, atau setara dengan kelas 3 SD di Jepang. Sebenarnya di Indonesia, Maliq setara dengan kelas 4 SD, namun di Jepang batasan usia anak untuk menentukan kelas berapa, berakhir di tanggal 31 Maret, sehingga Maliq yang lahir di tanggal 11 April harus turun kelas. Tapi hal ini tidak menjadi masalah buat saya, karena pengalaman yang Maliq akan dapatkan dengan bersekolah di SD Jepang lebih berharga dibandingkan kerugian turun kelas.

Proses pendaftaran SD di Jepang, atau tepatnya di Tokyo, diawali dengan laporan ke kantor area tempat tinggal (Kuyakusho), kemudian wawancara di Dinas pendidikan Adachi-ku, Tokyo di daerah Kita-Senju, lalu di sana juga ditetapkan SD mana yang masuk dalam zonasi tempat tinggal kami saat itu. Biayanya? Gratis dong! Karena Maliq akan masuk ke SD Negeri Jepang yang disubsidi penuh oleh Pemerintah.

Bersekolah di SD Negeri Jepang, tidak perlu beli seragam. Jadi saya hanya perlu membeli topi sekolah, sepatu yang dipakai dalam sekolah, baju olah raga, dan ransel. Ransel anak SD di Jepang semuanya seragam. Harganya pun fantastis, di kisaran 1,5 juta-4 juta rupiah. Wow! Mahal banget ya! Kenapa sih semahal itu? Karena bahannya yang terbuat dari kulit berkualitas dan awet dipakai sampai 6 tahun. Jadi beli ransel ini seperti investasi di awal masuk SD.

Tapi, bukan emak-emak namanya kalau tidak mencari celah, saya pun membeli ransel bekas di situs pelelangan di Jepang. Dapatlah ransel bekas yang masih layak pakai dengan harga Rp. 250,000 saja. Terbukti betapa awetnya, karena ransel yang saya beli ini sudah dipakai 6 tahun oleh pemilik terdahulunya.

Hari pertama sekolah, saya, suami dan adiknya Maliq, ikut mengantar ke sekolah untuk pertama kalinya. Maliq saat itu belum bisa berbahasa Jepang dengan lancar, hanya bisa Jiko Shokai (perkenalan diri), walaupun dia mampu berbahasa Inggris dengan baik. Sempat cemas, nanti Maliq stress nggak ya, karena nggak bisa berkomunikasi. Keresahan itu hilang, karena beberapa hari setelah sekolah, beberapa temen satu kelas Maliq ada yang main ke rumah. Mereka mengajak Maliq main! Lega bukan main rasanya, karena si Sulung dapat cepat beradaptasi di SD-nya.

Sekolah Maliq juga menyediakan guru privat Bahasa Jepang, agar Maliq bisa cepat menguasai Bahasa Jepang. Dalam waktu kurang dari 3 bulan, Maliq sudah mampu berkomunikasi tanpa hambatan. Anak kecil memang cepat belajarnya ya!

Oke, sekian dulu cerita saya mengenai si Sulung yang masuk ke SD di Jepang. Kita sambung di lain waktu ya!

Bagaimana cerita perjalanan Ibu Hayu dan Maliq selanjutnya? Kita tunggu kisah selanjutnya ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *