Kegiatan Makan Siang & Obento Maliq saat di SD Jepang!

Halo Ayah Bunda!

Setelah menyimak serunya anak sulung Ibu Hayu, Maliq saat masuk sekolah di SD Jepang. Kali ini Ibu Hayu akan berbagi cerita tentang pengalaman Maliq saat mengikuti kegiatan makan siang di SD Jepang. Bagaimana kisahnya? Kita simak yuk!

Kegiatan belajar mengajar SD dimulai pukul 8.45 dan selesai sekitar pukul 15.45. Kegiatan di sekolah mencakup makan siang bersama di sekolah. Sebenarnya, anak-anak diharuskan ikut makan siang dengan menu dari sekolah dengan biaya tambahan (Kyuushoku). Namun, Maliq tidak dapat ikut makan siang dengan menu sekolah, karena adanya bahan-bahan yang tidak boleh dimakan oleh kami (muslim) dalam menu tersebut. Sehingga sekolah memberikan kami kebebasan untuk membawa obento (bekal) dari rumah. So, kebayang ya betapa ribetnya saya setiap pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarga dan juga obento!

Biarpun tidak ikut makan menu sekolah, Maliq tetap diberikan kesempatan ikut dalam piket bergilir (kyuushoku touban) untuk menghidangkan makanan kepada teman-temannya. Menu sekolah ini memang dirancang sedemikian rupa oleh ahli gizi khusus agar dapat mencapai target menu sehat, variatif dan masuk anggaran. Menu makanan terdiri dari nasi/sumber karbohidrat lainnya, lauk pauk (daging/telur dan sayur mayur) dan susu sapi. Menu sekolah ditetapkan sebulan sebelumnya sehingga setiap awal bulan orang tua murid mendapatkan daftar menu sekolah (Kondatehyou) untuk sebulan. Setiap bulan pun mengusung tema berbeda, seperti menu makanan dari negara-negara asing.

Oh iya, saya hampir tidak pernah memasukkan sayur dalam obento untuk Maliq, karena saat SD, Maliq masih susah makan sayur. Daripada mubazir, saya lebih memilih menu aman yang pasti dihabiskan oleh Maliq. Inilah yang membuat teman-temannya malah iri dengan obento sederhana buatan saya, dibanding harus makan menu sekolah yang ada sayur/makanan tertentu yang kurang favorit. Di sisi lain, Maliq terkadang penasaran dengan menu yang dinikmati oleh teman-temannya, sehingga saya memberikan pengertian kenapa dia tidak bisa ikut makan dengan menu yang sama dengan teman-temannya. Saya bersyukur, Maliq bisa memahami alasan di balik larangan makan tersebut yang kaitannya dengan agama Islam. Dia pun selalu menghabiskan obento yang saya buatkan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *