Strategi Orang Tua Dalam Mencegah Learning Loss Pada Anak

Pandemi Covid-19 yang telah terjadi sejak April 2020 membawa dampak besar pada berbagai aspek kehidupan. Pada sektor pendidikan, pengurangan mobilitas memaksa peserta didik dari PAUD untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hampir setahun lebih. Kondisi ini yang berlangsung terus menerus pada anak usia dini dapat mengakibatkan hilangnya kesempatan belajar (Learning Loss) dan anak bisa mengalami ketertinggalan perkembangan.

Ketertinggalan perkembangan anak usia dini adalah kondisi di mana kemampuan atau keterampilan anak mengalami penurunan atau kemunduran dan tidak berkembang sesuai usia dan potensinya. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, misalnya keterbatasan kemampuan guru dalam membantu anak, keterbatasan keterampilan orang tua dalam memberikan stimulasi, rangsangan pendidikan dari rumah.

Bagaimana ciri-ciri anak yang mengalami Learning Loss? Berikut di antaranya:

1. Aspek Perkembangan Fisik Motorik

Anak menjadi kurang bergerak dan terlalu banyak makan membuat fisik menjadi kurang bugar dan bisa mengalami kegemukan. Motorik halus pun kurang berkembang karena kurangnya kegiatan yang merangsang motorik halusnya seperti meremas, menggunting, melipat, menarik garis, mencetak, meronce dan memegang pensil atau krayon. Selain itu, dampak adiksi terhadap gawai juga akan berpengaruh pada kesehatan mata. Interaksi anak terhadap lingkungan sekitar pun menjadi berkurang. 

2. Aspek Perkembangan Kognitif

Kemampuan dalam memecahkan masalah kurang berkembang karena anak terlalu banyak dibantu oleh orang tua dalam mengerjakan tugas sekolah.

3. Aspek Perkembangan Bahasa

Kemampuan menyimak menjadi kurang berkembang. Minat baca pun menjadi menurun karena berkurangnya kesempatan membaca buku-buku sekolah, juga kurang tersedianya buku-buku anak untuk dibaca di rumah. Selain itu kesibukan orang tua yang mungkin harus bekerja dari rumah membuat komunikasi tidak lancar, membuat kemampuan anak dalam menyampaikan ide, kemauan dan perasaan jadi kurang berkembang.

4. Aspek Perkembangan Sosial Emosional

Keterampilan berinteraksi menjadi kurang berkembang karena kesempatan bermain bersama teman dan orang lain menjadi terbatas. Begitu pun halnya kemampuan dalam kemandirian dan berempati.

*

Upaya agar Learning Loss tidak berdampak panjang terhadap anak adalah dengan melibatkan semua pihak, yakni mulai dari pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, keluarga, hingga masyarakat baik yang berbentuk lembaga maupun individu. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai PAUD-HI (Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif). Kebijakan ini adalah bentuk penanganan anak usia dini secara utuh (menyeluruh) yang mencakup gizi, kesehatan, pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan, untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangan anak yang dilakukan secara terpadu.

Lalu, bagaimana peran keluarga khususnya orang tua untuk mencegah Learning Loss pada anak? Simak beberapa solusi berikut!

1. Mengupayakan lingkungan rumah yang aman, nyaman dan menyenangkan

PTMT saat ini, masih memberikan pembatasan jam belajar anak di sekolah. Anak pun tetap melakukan pembelajaran kombinasi antara daring dan luring (hybrid learning). Untuk mewujudkan situasi rumah yang menyenangkan, orang tua bisa mendekorasi kamar anak layaknya ruang belajar yang nyaman. Sehingga situasi sekolah masih bisa dirasakan anak walaupun sedang belajar di rumah. 

2. Memberikan stimulasi untuk perkembangan anak dengan berbagai kegiatan

Beberapa kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan anak misalnya beribadah bersama, membacakan buku, mengobrol, menyanyi bersama, mengajak bermain, atau melakukan proyek bersama seperti memasak, membuat mainan, menanam tanaman dll.

3. Melakukan pembiasaan dan keteladanan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik

Pembiasaan adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh para orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kebiasaan yang baik dalam berkomunikasi, tidak mudah memarahi anak, tidak menyakiti baik fisik maupun psikis. Dengan memperkenalkan karakter yang baik, anak menjadi pribadi yang berkarakter baik pula.

4. Berkolaborasi dengan sekolah dalam mengejar ketertinggalan perkembangan anak

Saling bersinergi dengan sekolah untuk mencari solusi bersama dalam mengejar ketertinggalan anak.  Guru bisa membantu orang tua dalam memberikan panduan dan media belajar untuk mengaplikasikan pembelajarannya di rumah.

5. Mengupayakan pemenuhan gizi yang seimbang dan sebisa mungkin menghindari makanan instan

Anak berhak untuk memiliki tumbuh kembang yang optimal. Asupan gizi yang seimbang selain baik untuk kesehatan, juga menunjukkan korelasi yang positif dengan perkembangan kecerdasan anak. Perkembangan otak yang baik mencakup beberapa kemampuan seperti kemampuan kognitif, sosial, serta emosional. 

Kita tidak tahu kapan pandemi ini benar-benar akan berakhir. Berbagai upaya harus segera dilakukan untuk mencegah learning loss pada anak sebagai akibat hilangnya kesempatan belajar di satuan pendidikan. Orang tua didorong menjadi kreatif agar anak memiliki motivasi untuk belajar dan tidak mengalami kejenuhan.

———————–

Sumber: Panduan Pencegahan Ketertinggalan Perkembangan Pada Anak Usia Dini Sebagai Akibat Dari Hilangnya Kesempatan Belajar Selama Masa Pandemi COVID-19 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi; Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah; Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.