Si Bungsu Mikail, Mulai Masuk TK di Jepang!

Setelah berbagi kisah si sulung, Maliq, yang masuk SD Jepang, kali ini saya ingin berbagi kisah si bungsu, Mikail, yang masuk TK Jepang yang nggak kalah heboh!

Di Jepang, TK bukanlah pendidikan wajib. Ibu-ibu di Jepang boleh memilih menitipkan anak-anaknya di Daycare (Hoikuen) atau menyekolahkannya di TK (Youchien). Saya sendiri lebih memilih menyekolahkan Mika (panggilan Mikail) di TK, karena mendaftar di Daycare lebih sulit dan banyak antrian, akibat ketersediaannya yang terbatas di kota-kota besar. 

Para pembaca pasti penasaran kan sama biaya masuk TK di Jepang? Biayanya memang cukup fantastis! TK yang saya pilih adalah sebuah TK swasta di daerah pinggiran Tokyo. Biaya awal masuk sekolah mencapai 25 jutaan rupiah. Biaya itu sudah termasuk pendaftaran sekolah, seragam, tas dan peralatan lainnya. Namun berita baiknya adalah saya mendapatkan subsidi sebagai pelajar asing yang nilai pajaknya nihil, artinya dianggap tidak berpenghasilan. Subsidinya cukup besar! Sekitar 80% uang yang saya bayarkan di awal, masuk kembali ke rekening saya setelah 6 bulan Mika bersekolah. Namun pada awalnya saya harus sampai mengambil pekerjaan sambilan sebagai tour guide untuk memenuhi pembayaran uang masuk demi menyekolahkan Mika!

Kecemasan saya yang paling besar adalah, Mika yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang. Saya takut dia tidak bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya, dan juga tidak paham gurunya berbicara apa. Dan, benar saja. Di hari pertama sekolah, Mika hanya bengong. Tapi teman-temannya aktif mengajak main, gurunya pun sabar mengajak Mika berbicara sambil melakukan gestur-gestur agar Mika bisa mengerti.

Berbeda dengan SD negeri yang tidak memiliki seragam, TK swasta Mika memiliki seragam musim dingin dan musim panas, lengkap dengan masing-masing topi. Untuk musim dingin, mengenakan blazer, kemeja lengan panjang, overall celana pendek. Saat musim panas, mengenakan overall dengan kemeja putih lengan pendek. Bahannya pun berbeda untuk musim dingin lebih tebal dibandingkan musim panas. Sedangkan tas sekolah juga harus seragam, dengan harga yang tak kalah fantastis, seharga 2 juta rupiah! Soal kualitas dan keawetan tas, bahannya dari kulit berkualitas yang dijamin akan awet dipakai selama 3 tahun bersekolah di TK.
Selain tas sekolah, saya juga harus menyiapkan pouch untuk nasi bekal juga placemat untuk makan di sekolah yang spesial Bunda jahit sendiri untuk Mika, dengan referensi model dari sekolah.


Sekolah Mika dimulai jam 9 sampai dengan jam 2. Naik bus jemputan tiap pagi dan pulang sekolah. Titik penjemputannya pun sudah ditetapkan di dekat rumah, jadi pada jamnya, orang tua harus siap menjemput di sana. Di dekat rumah kami, ada 2 murid lain, yang bernama Iroha dan Souta, yang sama titik penjemputannya. Mika, Iroha-chan (chan adalah panggilan untuk anak perempuan) dan Souta-kun (kun adalah panggilan untuk anak laki-laki) pun menjadi cukup dekat karena selalu bersama. Saya pun menjadi Mama-tomo (teman sesama Mama) dengan ibu mereka. Mama Iroha-chan dan Mama Souta-kun selalu membantu saya jika ada hal-hal yang tidak saya pahami mengenai kegiatan di TK. Saya sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.