Memahami Peran Penting Orang Tua dalam Perkembangan Anak

Perkembangan anak yang sehat hingga memasuki masa remajanya, secara umum merupakan (dan seharusnya menjadi) tanggung jawab utama bagi setiap orang tua. Sebagaimana telah kita ketahui, orang tua memegang banyak peran penting pada proses perkembangan anak. Orang tua sangat berperan untuk membina sisi emosional anak sehingga mereka memiliki rasa empati yang kuat terhadap sesama manusia (ini sangat penting selama tahap awal perkembangan psikologis).

Selain itu, orang tua juga memiliki peran untuk memastikan bahwa anak-anak siap menghadapi kehidupan saat mereka beranjak menjadi orang dewasa. Tentu saja, Anda tidak harus langsung mengajarkan hal-hal rumit seperti seluk-beluk sistem perbankan (yang nantinya akan dipergunakan saat anak dewasa). Anda cukup mengambil langkah kecil dan anak pada akhirnya akan belajar mengembangkan rasa tanggung jawab mendalam yang nantinya diharapkan bisa membimbing mereka dengan baik di masa depan.

Sebagaimana kita ketahui, membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Kenyataannya, tugas ini membutuhkan perjuangan dalam berbagai aspek, meskipun demikian hal ini tidaklah sia-sia karena suatu hari nanti semua orang tua akan mendapatkan kebanggaan tersendiri ketika melihat anak-anaknya berhasil menjadi anggota masyarakat yang terintegrasi dengan baik. Namun sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa terdapat berbagai faktor perkembangan mendasar yang harus Anda bangun sebelum hal tersebut dapat terwujud (atau setidaknya, untuk membuat prosesnya menjadi lebih lancar). Artikel ini akan memberikan penjelasan kepada Anda mengenai bagian-bagian utama yang harus selalu diperhatikan oleh para orang tua saat membesarkan anak-anaknya.

1. Meningkatkan Kemampuan Kognitif

Perlu Anda tahu, kemampuan kognitif seorang anak tidak hanya sekadar untuk dapat mengingat informasi baru saja. Lebih dari itu, perkembangan kognitif mencakup kemampuan anak untuk bisa berpikir secara mendalam mengenai informasi baru yang mereka terima serta membangun kemampuan berpikir secara mandiri mengenai suatu objek daripada hanya membaca informasi yang sudah ada sebelumnya. Namun selain itu, kemampuan kognitif juga akan melibatkan keterampilan anak untuk bisa menerapkan informasi yang telah mereka pelajari sebelumnya ke dalam konsep-konsep baru. Berdasarkan teori perkembangan kognitif milik Jean Piaget, kemampuan anak untuk berpikir secara abstrak akan menjadi lebih jelas di tahap Operasional Konkret. Pada tahap tersebut, balita dan anak kecil mulai bisa berpikir secara logis tentang peristiwa-peristiwa konkret, mengembangkan pandangan dunia yang kurang egosentris, mulai memahami dunia di luar lingkungan terdekat mereka, serta memperoleh kemampuan untuk dapat “mengerjakan hal-hal secara internal di kepala mereka, daripada secara fisik melakukannya di dunia nyata” (McLeod, 2022).

Tahap perkembangan anak ini akan terjadi saat mereka berusia 7 – 11 tahun, oleh karena itu sangat penting bagi orang tua untuk terlibat dalam kegiatan membangun logika dengan anak-anak selama atau bahkan sebelum tahapan ini terjadi. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengembangkan kemampuan kognitif anak:

– Proyek Seni: Anda bisa mengajak anak untuk melakukan berbagai aktivitas seni seperti menggambar dan melukis. Hal ini tidak hanya dapat meningkatkan kreativitas anak, tetapi juga membantu keterampilan motorik halus mereka.

– Ajukan Banyak Pertanyaan: Menjaga agar pikiran anak Anda dapat terus aktif bahkan dengan cara yang pasif dapat mendorong anak-anak untuk bisa menggunakan pikiran mereka secara teratur dan memikirkan subjek secara lebih mendalam.

– Belajar Alfabet: Anda dapat mendorong anak untuk meningkatkan pengetahuan alfabetnya dengan menyanyikan lagu alfabet bersama-sama sambil membaca buku dasar-dasar ABC.

– Belajar Bentuk dan Warna: Saat menghabiskan waktu bersama anak, Anda dapat menunjukkan berbagai jenis bentuk dan warna tertentu di lingkungan sekitar. Misalnya, menunjuk ke sebuah tanda dan mengatakan “Itu segitiga”, atau menunjuk ke meja dan mengatakan “Itu persegi panjang.”

– Bacakan Buku untuk mereka: Salah satu cara yang baik untuk dilakukan dalam membantu anak agar bisa mengembangkan kemampuan kognitifnya adalah dengan melatih kemampuan bahasa dan imajinasi. Anda bisa melakukan kegiatan ini dengan mudah karena sudah ada banyak buku di luar sana yang ditujukan untuk anak-anak. Misalnya, Play Smart Workbook untuk Usia 3+ dari Gakken yang berisi beragam aktivitas menarik seperti teka-teki, instruksi, aktivitas pengenalan bentuk dan warna, dan banyak aktivitas lain yang dirancang untuk melatih keterampilan fokus anak.

2. Mengembangkan Pemahaman Sosial & Budaya

Sampai batas tertentu, pemahaman sosial & budaya pada anak-anak dapat terjadi dengan sendirinya karena kemampuan belajar yang dimilikinya adalah yang tercepat di antara kita, selain itu mereka juga dapat dengan mudah mencerna norma ataupun kebiasaan dunia di sekitarnya. Meskipun demikian, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan kepada anak-anak mengenai cara menanggapi dan menghormati kebiasaan di lingkungan sosial. 

Perlu Anda ketahui bahwa cukup mudah bagi seorang anak untuk bisa memahami konsep ibu dan ayah karena mereka tinggal dalam satu atap yang sama pada satu unit keluarga. Norma budaya pada lingkungan tersebut memang tidak akan sulit untuk mereka pahami. Namun, perlu diketahui bahwa di dalam lingkungan keluarga, anak-anak akan lebih menginternalisasi kualitas hubungan antara ibu dan ayah, dan yang lebih penting bagaimana sebuah argumen terbentuk dalam keluarga mereka. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk memberi contoh kepada anak-anak bagaimana cara menyelesaikan perselisihan internal keluarga dengan cara yang tenang dan wajar.

Selanjutnya, pengembangan pemahaman sosial yang lebih luas tidak akan dipelajari hanya dalam unit keluarga saja. Contohnya seperti pemahaman tentang bagaimana seorang anak memutuskan untuk berinteraksi dengan teman-temannya di taman bermain. Faktanya anak-anak yang terpapar perilaku agresif dalam lingkungan keluarga sangat berpeluang untuk bersifat agresif terhadap anak-anak lain di luar lingkungan rumahnya. Berdasarkan penelitian tahun 2006 yang dikutip dari University of Washington, 73% anak-anak yang berasal dari latar belakang seperti itu secara mengejutkan akan memecahkan masalah yang mereka alami dengan cara melakukan tindakan intimidasi. Penting juga untuk dicatat bahwa dari persentase tersebut, anak-anak yang melakukannya juga menjadi korban bullying itu sendiri (hingga 97%).

“Children learn from seeing what their primary caregivers do. They are much attuned and very observant about what goes on in a household’, said Dr. Nerissa Bauer, lead author of the study and a former UW pediatrician” (Schwarz, 2006).

Oleh karena itulah, penting untuk Anda ingat bahwa peran orang tua dalam membesarkan anak tidak hanya melibatkan partisipasi aktif saat mengasuh mereka, namun juga harus mencakup pemberian contoh dan panutan yang baik untuk diikuti oleh anak-anak. Artinya, Anda perlu memperbaiki diri terkait cara memperlakukan orang lain di lingkungan sekitar dan secara aktif menunjukkan kepada anak-anak bahwa kerja keras dan dedikasi akan membuahkan hasil.  Bentuk instruksi “pasif” tersebut nantinya akan cepat diinternalisasi oleh anak. Bertentangan dengan kepercayaan banyak orang, perlu Anda ketahui bahwa setiap anak adalah pemikir yang mendalam, dan ketika bertindak mereka pasti akan merefleksikan perilaku orang tua mereka sendiri terlebih dahulu.

Oleh karena itu, peran yang dimainkan orang tua dalam membesarkan anak sangat beragam: meliputi keterlibatan aktif dan pasif dalam bidang perkembangan fisik, mental, sosial dan spiritual anak. Selain itu, peran orang tua juga mencakup fokus pada peningkatan diri sendiri sehingga dapat memberikan teladan yang baik bagi anak-anak. Memang, secara keseluruhan prosesnya terlihat cukup rumit, seperti yang banyak orang katakan, “Parenting tidak datang dengan instruksi manual.” Namun, sesulit apa pun itu, hasilnya akan sepadan dengan apa yang telah Anda lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.