Karakteristik Pendidikan Di Jepang

Orang Jepang sangat terkenal dengan etos kerja yang tinggi, sehingga membuat negara Jepang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dari segi akademis, pada Tes Internasional PISA yang diselenggarakan oleh OECD, siswa Jepang selalu meraih nilai lebih tinggi secara signifikan daripada rata-rata global. Selain itu, kita juga dapat melihat betapa disiplinnya orang Jepang dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam menghadapi bencana besar.

Apakah kunci keberhasilan Jepang dalam pembentukan karakter yang tersebut di atas? Hal itu tentu tidak terlepas dari pendidikan yang diberikan di negaranya. 

Menurut Profesor Yuto Kitamura dalam webinarnya yang bertajuk “THE AMBASSADORIAL LECTURES X/2021-2022, Japanese Education under the influence of COVID-19: Possibilities of Promoting “Knowledge Diplomacy” to Share Our Experience”, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Jepang dan Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, pada 22 Februari 2022 yang lalu, ada 3 konsep utama dalam karakteristik pendidikan di Jepang. Yakni “Chi”, “Toku”, dan “Tai”. “Chi” berarti kompetensi akademi yang solid, “Toku” berarti kekayaan dalam kemanusiaan, dan “Tai” berarti kesehatan tubuh. 

Dalam “Chi” (kompetensi akademi yang solid), anak ditanamkan dasar-dasar akademis, berinisiatif menemukan masalah, belajar dan berpikir, memutuskan, bertindak secara mandiri dan memecahkan masalah dengan lebih baik.

Pada “Toku” (kekayaan dalam kemanusiaan), anak ditanamkan agar mempunyai nilai-nilai disiplin diri, bekerja sama dengan orang lain, berbuat baik kepada orang lain, dan memiliki empati untuk tergerak.

Dan pada “Tai” (kesehatan tubuh), ditekankan kebugaran jasmani untuk hidup secara aktif.

Berdasarkan 3 konsep utama di atas, pendidikan di Jepang tidak hanya fokus pada mata pelajaran saja, namun juga diselenggarakan berbagai kegiatan khusus, seperti kegiatan Kyushoku (makan siang) di sekolah, kegiatan Eisei (sanitasi) & kebersihan, dan Gakko gyoji (acara sekolah).

1. Kyushoku (Makan Siang)

Pada umumnya (dengan beberapa pengecualian tergantung pada otoritas daerah setempat), sekolah Jepang memiliki dapur sendiri atau dapur bersama di wilayahnya yang menyiapkan makan siang bagi sekolah-sekolah di sekitarnya. Untuk dapur bersama, makanan kemudian dikirim ke setiap sekolah. Makan siang yang disiapkan oleh sekolah atau yang sudah sampai di sekolah selanjutnya akan disajikan oleh para siswanya sendiri. Tugas ini dilakukan secara bergantian hingga semua anak mendapatkan gilirannya, mulai dari menuangkan dan melayani makan siang teman-temannya. Anak-anak dibagi menjadi grup kecil untuk makan bersama, dan membersihkan sendiri setelah selesai makan. Menu makan siang pun sangat bervariasi. Setiap hari disajikan menu yang berbeda yang disusun oleh ahli gizi, agar siswa memperoleh gizi yang seimbang. Bahan makanan yang digunakan adalah hasil panen lokal sehingga siswa dapat mengenal sumber daya dari daerah asalnya, serta mewarisi budaya makan daerah tersebut. Selain itu juga, para siswa memperoleh pengetahuan tentang makanan dan kebiasaan makan yang benar dari guru dan ahli gizi.

2. Eisei (Sanitasi) dan Kebersihan

Kegiatan lainnya adalah Eisei (sanitasi) dan kebersihan, agar dapat menanamkan pentingnya sanitasi dan kebersihan pada anak. Kegiatan kebersihan yang dilaksanakan di sekolah seperti membersihkan sekolah mulai dari ruang kelas, lorong hingga kamar mandi. 

Kemudian, tersedianya wastafel di sekolah menjadi ciri khas sekolah-sekolah di Jepang. Anak-anak selalu dibiasakan untuk mencuci tangan setelah melakukan kegiatan. Contohnya setelah dari luar ruangan, atau setelah dari kamar mandi, anak diwajibkan untuk mencuci tangan. Kegiatan cuci tangan sudah menjadi kebiasaan yang berkelanjutan bagi anak-anak di Jepang. 

3. Gakko gyoji (Acara sekolah)

Acara sekolah meliputi festival olahraga tahunan, festival musik, pagelaran seni, kegiatan pengalaman kerja, dan lain-lain. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, anak-anak dapat mempelajari bagaimana cara hidup bersosialisasi. Anak dapat membentuk hubungan manusia yang baik dan mengembangkan sikap sukarela serta membina sikap praktis melalui kegiatan bekerjasama, untuk membangun kehidupan sekolah yang lebih baik.

Selain acara itu sendiri, proses persiapan acara juga merupakan hal yang penting bagi pendidikan anak. Hal ini tidak hanya diikuti oleh guru dan murid, namun juga warga sekitar dan anggota keluarganya. Sehingga keluarga dapat merasakan perkembangan pertumbuhan anaknya.

Bagaimana siswa SD di Jepang menghabiskan waktunya sehari di sekolah? 

Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains dan Teknologi (MEXT) Jepang menyajikan kegiatan siswa SD dalam satu hari di sekolah dalam sebuah video (https://www.youtube.com/watch?v=pSGtvLD61T8). Dari video tersebut, kita bisa melihat kegiatan siswa SD di Jepang sebagai berikut: 

  1. Para siswa berjalan menuju sekolah melalui “rute sekolah”, warga sekitar mengawasi siswa-siswa tersebut untuk memastikan keamanan dan keselamatan mereka.
  2. Setelah tiba di sekolah, para siswa menghabiskan waktunya sesuka mereka hingga pertemuan pagi di mulai.
  3. Pertemuan pagi dimulai dengan ucapan salam pagi di bawah arahan “nicchoku”. Nicchoku adalah pemimpin kelas pada hari itu. Tugasnya membantu guru dan menjadi moderator pada saat pertemuan pagi. Nicchoku berganti setiap harinya, dan setiap anak di kelas akan mendapat giliran.
  4. Kelas dirancang agar dapat membina kemampuan dan pengetahuan yang luas dan seimbang seperti Bahasa Jepang, Aritmatika, Sains, Musik, Pendidikan Jasmani, ekonomi rumah tangga, pendidikan moral dan mata pelajaran lainnya. Selain itu melalui pembelajaran terpadu, lingkungan belajar yang ada di masyarakat digunakan secara aktif melalui kolaborasi dengan masyarakat dan kemitraan dengan fasilitas pendidikan sosial seperti pusat komunitas, perpustakaan dan museum.
  5. Makan Siang
  6. Waktu istirahat
    Siswa diberikan kebebasan dalam menggunakan waktu istirahatnya. Ada yang semangat bermain di lapangan, ada yang menghabiskan waktunya membaca buku di perpustakaan. 

Para siswa juga bisa menjadi bagian dari Iinkai Katsudo (kegiatan kepengurusan), seperti petugas perpustakaan yang menangani peminjaman buku, atau ada juga siswa yang menjadi petugas untuk merawat hewan yang dipelihara di sekolah. Dengan menjadi pengurus aktif, siswa belajar tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk sekolah, orang lain dan diri sendiri.

Selain itu, para siswa juga bisa aktif dalam Kurabu katsudo (aktivitas klub) mulai dari klub olahraga, hingga kegiatan indoor seperti musik, teater, seni, dan komputer.

Melalui kegiatan klub, para siswa dapat menjalin pertemanan antar level (kelas) sehingga dapat mengembangkan kepribadian masing-masing. 

Sumber: Webinar, THE AMBASSADORIAL LECTURES X/2021-2022, Japanese Education under the influence of COVID-19: Possibilities of Promoting “Knowledge Diplomacy” to Share Our Experience, oleh Prof. KITAMURA Yuto, Graduate School of Education The University of Tokyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.