Bullying pada Anak, Bagaimana Mencegah dan Menanganinya

Kasus bullying di kalangan anak-anak masih menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi para orang tua. Bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang melibatkan “ketidakseimbangan kekuatan”. Perilaku ini dilakukan berulang-ulang atau memiliki potensi untuk terus diulang sepanjang waktu.

Berbagai riset tentang kekerasan anak menunjukkan bahwa anak-anak mengalami kekerasan di tempat atau lokasi yang mereka kenal dan oleh orang-orang yang mereka kenal. Hal ini tidak terkecuali terjadi di sekolah oleh teman sebaya, pendidik atau tenaga kependidikan.

Anak yang mengalami bullying biasanya ada perubahan dalam dirinya baik yang terlihat maupun tidak. Apa saja tanda-tanda anak yang mengalami bullying? Berikut di antaranya:

  1. Mengalami perasaan yang tidak menyenangkan dan mengalami tekanan psikologis yang berat. Misalnya, ada rasa cemas yang meningkat jika membicarakan tentang sekolah, tidak mau masuk sekolah, tidak ingin bergabung dalam kegiatan tertentu, kepercayaan diri rendah, suka mengatakan hal-hal seperti “tidak ada yang menyukaiku”, “aku tidak punya teman” dll.
  1. Dapat mengalami penurunan prestasi di sekolah. Hal ini dikarenakan perhatian masih terfokus pada bagaimana menghindari diri menjadi target bullying daripada tugas akademik. Anak jadi tidak memiliki keinginan lagi untuk belajar atau merasa kesulitan untuk fokus dalam menerima pelajaran.
  1. Memar di tubuh yang tidak ingin dijelaskan. Merasa cemas dan takut untuk menjelaskan kondisi fisik yang terjadi, sehingga memilih untuk diam, dan merasakan sakitnya sendiri bahkan mungkin berbohong untuk menutupi perlakuan yang diterimanya.
  1. Menggambarkan orang lain secara negatif seperti “mereka bodoh” atau “dia pantas mendapatkan hal-hal buruk dalam hidupnya”, juga merasa tidak peduli saat orang lain mengalami hal buruk. 
  1. Berpikiran untuk membalas dendam. Ini adalah dampak bullying yang paling berbahaya. Sebab, anak mungkin berpikiran untuk melakukan kekerasan pada orang lain sebagai upaya balas dendam atas perlakuan yang dialami.

Bullying pada anak tidak dapat disepelekan begitu saja. Hal ini bisa memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang. Bukan tidak mungkin anak yang menjadi korban bullying akan memiliki rasa percaya diri yang rendah serta pesimis memandang kehidupan.

Lalu, jika anak mengalami perubahan akibat bullying, apa saja penanganan yang orang tua bisa lakukan?

1. Dengarkan

  • Tanggapi secara serius namun tidak mengintimidasi. Kontrol emosi Anda, dan yakinkan bahwa Anda ada untuk membantu anak menyelesaikan masalah.
  • Jika Anda tidak setuju dengan bagaimana anak menangani bullying, jangan kritik. Karena setiap anak memiliki pengetahuan dan kemampuan penanganan masalah yang berbeda.
  • Yakinkan bahwa ini bukan salahnya, dan Anda tidak akan melakukan upaya apapun tanpa memberitahu anak Anda terlebih dahulu.
  • Gunakan keterampilan komunikasi yang interaktif dan tanpa kekerasan.

2. Beri Dukungan

  • Dorong anak Anda untuk berinteraksi dengan teman-teman yang ramah di kelasnya atau membangun pertemanan di luar sekolah.
  • Ajari anak untuk bagaimana melindungi dirinya sendiri, seperti bagaimana mendapatkan pertolongan dari orang dewasa yang ia percaya.
  • Diskusikan dan membuat rencana lanjutan seperti menjauhi anak yang suka melakukan bully. Jangan dorong anak untuk melakukan balas dendam, terutama secara fisik.

3. Tangani

  • Bicaralah kepada pihak sekolah dan cari tahu apa yang sekolah dapat lakukan.
  • Cek kondisi anak Anda secara berkala.
  • Sebagai pencegahan, bimbing dan awasi anak Anda dalam menggunakan media sosial dan menonton tayangan di televisi. Hindari tayangan yang mengandung kekerasan. Jadilah contoh yang baik dengan mengajarkan cara saling menghormati dan menolong satu sama lain.
  • Jika membutuhkan bantuan, Anda bisa mendatangi pusat layanan kesehatan, hukum, atau sosial terdekat.

Semakin dini anak mengalami bullying akan memberikan dampak yang serius terhadap masa depan dan perkembangan emosional, sosial, pendidikan dan psikologis. Dampak bullying dapat mengancam setiap pihak yang terlibat baik korban, pelaku, dan juga anak-anak yang menyaksikan bullying. Untuk itu, upaya menyeluruh harus dilakukan untuk mencegah tindakan bullying. Pencegahan dapat dimulai dahulu melalui keluarga dalam pola pengasuhan anak. Seperti bagaimana menanamkan kepada anak nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan cinta kasih pada sesama.

Selain itu juga, sangat penting bagi orang tua mengajarkan empati kepada anak, yang dapat membuat anak lebih memahami situasi teman-teman seusianya. Rasa empati dapat dimulai dari rumah sendiri. Ketika anak terjatuh, orang tua bisa menenangkan anak dan memberikan respons dan tindakan yang positif untuk menyadarkan kepada anak kalau mereka tidak melalui momen kesedihan ini sendirian. Selain itu, secara tidak langsung ketika anak-anak memiliki ikatan yang aman dengan orang tua, anak-anak lebih cenderung menunjukkan empati terhadap orang lain sehingga perlakuan bullying (mem-bully ataupun di-bully) dapat dicegah sedini mungkin.

Referensi: Kemendikbud Ristek, Cerdas Berkarakter, Merdeka dari Perundungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.